Showing posts with label Hankam. Show all posts
Showing posts with label Hankam. Show all posts

Wednesday, June 11, 2025

Penambahan batalyon tanpa memperkuat kemampuan tempur pasukan

Batalyon ketahanan pangan

TOP

unit drone regu, pelton, kompi, batalyon, brigade.

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Sunday, October 15, 2017

stay civvy

“To confine soldiers to purely military functions while urgent and vital tasks have to be done, and nobody else is available to undertake them, would be senseless. The soldier must then be prepared to become a propagandist, a social worker, a civil engineer, a schoolteacher, a nurse, a boy scout. But only for as long as he cannot be replaced, for it is better to entrust civilian tasks to civilians.”
-- David Galula



di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Thursday, October 06, 2016

Kebanyakan perwira

Fonomena mundurnya mayor agus h yudhoyono sangat baik untuk organisasi tni. Piramida saat ini terlalu banyak pamen dilavel pamen dan kelebihan juga jumlah pati. Akibatnya banyak perwira nganggur yang perlu posisi, diciptakanlah posisi aneh-aneh atau dikaryakan ke organisasi/kementrian/lembaga yang menampung perwira yang tidak tertampung dalam piramida normal militer. Dunia militer indonesia belum terbiasa melihat perwira berpindah ke dunia sipil dalam usia muda selepas minimum waktu berdinas berakhir. Di beberapa negara lazim melihat ex-perwira militer diusia muda sudah pindah ke dunia sipil, beberapa kolega dulunya perwira mil dinegaranya setelah selesai dinas mereka kembali ke dunia sipil. Keluhan bahwa lembaga/kementrian/organisasi yang jadi tempat penampungan perwira sudah pernah muncul, salah satunya dari ahp yg sempat menulis di jakarta post koran berbahasa inggis. 
Semakin muda usia kembali ke kehidupan sipil semakin mudah transisi ke kehidupan sipil.

Wednesday, December 10, 2014

isu penting isu tak penting

akhir-akhir ini yang beredar dimedia mayoritas berita dengan isu tak penting, berita tersebut dipantulkan ke sosmed dengan pantulan yang besar sekali. isu pentingnya malah jadi luput dari perhatian. malah pantulannya seperti segala macam tandingan itu yang muncul dimedia. contoh lain tandingan yang dilakukan fpi malah memantul kemana-mana padahal mestinya isu penting seperti fasilitas publik dijakarta yang semakin menurun layanannya mesti mendapat perhatian lebih besar karena bila tidak dilakukan apapun dalam satu dua tahun kedepan akan terjadi keadaan yang kacau balau,



di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Monday, August 26, 2013

Kepentingan Nasional dan Pejabat

Pejabat yang mestinya mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kepentingan nasional malah melakukan tindakan yang meninggalkan kepentingan nasional :(
Kepentingan kelompok dan golongan jadi lebih utama bukan kepentingan nasional, bungkusnya saja yang seolah-olah kepentingan nasional padahal secara kasat mata bukan demi kepentingan nasional


di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Wednesday, May 08, 2013

Dua Puluh Tahun Marsinah

DONGENG MARSINAH oleh Sapardi Djoko Damono


/1/
Marsinah buruh pabrik arloji,
mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi,
ia sangat cermat dan pasti.

Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
“kami ini tak banyak kehendak,
sekedar hidup layak,
sebutir nasi.”

/2/
Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”

Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”

/3/
Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
ia disekap di ruang pengap,
ia diikat ke kursi;
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lenkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.

Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi;
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.

Dalam perhelatan itu,
kepalanya ditetak,
selangkangnya diacak-acak,
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.

Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.

/4/
Di hari baik bulan baik,
tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli,
meregang waktu bersaksi:

Marsinah diseret
dan dicampakkan —
sempurna, sendiri.

Pangeran, apakah sebenarnya
inti kekejaman? Apakah sebenarnya
sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
azas kekuasaan? Dan apakah ebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?

Apakah ini? Apakah itu?
Duh Gusti, apakah pula
makna pertanyaan?

/5/
“Saya ini Marsinah,
buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
ke dunia lagi; jangan saya dikirim
ke neraka itu lagi.”

(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)



apa sebaiknya menggelinding saja
bagai bola sodok,
bagai roda pedati?”


(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia biarkan gerbang terbuka.)

“Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang
di poster-poster itu;
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu
harga sebuah lencana.”

(Malaikat tak suka banyak berkata,
tapi lihat, ia seperti terluka.)

/6/
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.

Kita tatap wajahnya
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.

Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.

(1993-1996)


*tahun ini kasusnya kadaluarsa

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Friday, August 03, 2012

Buku Ops Maluku Catatan seorang Prajurit di Daerah Konflik Ambon


Seorang prajurit aktif TNI-AD menulis sebuah buku catatan penugasannya ketika konflik ambon terjadi.  Kapten israr bertugas antara 24 juni 2000 sampai dengan 12 januari 2003. Kapten israr betugas pasca menyelesaikan pendidikan selapa disatuan bintal kodam pattimura yang baru dibentuk waktu itu pasca kerusuhan ambon. Kapten israr adalah perwira karier lulusan IAIN(UIN) Jakarta, dalam struktur milititer tugasnya adalah sebagai "ustad" tentara. Dalam konflik dengan latar agama tersebut yang bersangkutan ada dalam pilihan sulit karena kentalnya nuasa pertentangan agama sementara yang dia adalah seorang da'i. Buku ini memang tidak lengkap membahas semua operasi militer yang ada waktu itu lebih mengarah kepada catatan pribadi penulisnya cukup lumayan untuk melengkapi fragmen sejarah konflik ambon dari sisi seorang prajurit bintal tni.

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Tuesday, July 03, 2012

Selamat datang Leo 2

Akhirnya setelah bertahun-tahun menanti datang juga MBT. Akankan merubah paradigma angkatan darat Indonesia? Gak sabar ngeliat roll out di HUT TNI tahun ini

Info tentang leo bisa dilihat di :
https://en.wikipedia.org/wiki/Leopard_2

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Friday, June 29, 2012

Lewat Djam Malam(1954)

Minggu lalu berkesempatan menonton film Lewat Djam Malam yang dibuat tahun 1954. Film tersebut disutradarai oleh Usmar Ismail. Lewat Djam Malam pemenang FFI pertama. Arsip film ini sudah rusak atas kebaikan National Museum of Singapore dan world cinema foundation film ini direstorasi, sayang pemerintah kita tidak punya kepedulian, setelah direstorasi film ini diputar di cannes http://www.festival-cannes.com/en/archives/ficheFilm/id/11256984/year/2012.html 

Film ini bercerita tentang seorang bekas pejuang kemerdekaan republik bernama Iskandar yang berusaha kembali ke kehidupan normal. Sayang dia tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehidupan normal. Cerita film ini berasal dari kondisi Republik sesudah pengakuan kedaulatan waktu itu banyak mantan pejuang yang tidak ikut masuk kedalam dinas tentara. Lokasi film di kota Bandung tahun 50-an, kita bisa melihat betapa indahnya kota bandung saat itu dibandingkan dengan kondisi sekarang. Musik di film ini bagus-bagus jadi inget band Gurita Malam :D

Ternyata film ini pendek saja diputar dibioskopnya hari ini sudah menghilang dari daftar.

pranala luar:
http://worldcinemafoundation.org/
http://www.festival-cannes.com/en/archives/ficheFilm/id/11256984/year/2012.html
http://filmindonesia.or.id/article/restorasi-film-lewat-djam-malam

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Friday, May 11, 2012

Marsinah: 19 tahun tanpa penyelesaian

Tahun ini kasus marsinah sudah berlangsung selama 19 tahun. Ini tahun terakhir sebelum kasusnya kadaluarsa tahun depan.
Di bawah ini tulisan Harry Wibowo yang cukup komprehensif yg mungkin bisa menjadi perenungan kita
(sumber tulisan: http://lembagainformasiperburuhansedane.blogspot.com/2012/05/marsinah-korban-orde-baru-pahlawan-orde.html )


Oleh: Harry Wibowo
Jasad Marsinah diketahui publik tergeletak di sebuah gubuk berdinding terbuka di pinggir sawah dekat hutan jati, di dusun Jegong, desa Wilangan, kabupaten Nganjuk, lebih seratus kilometer dari pondokannya di pemukiman buruh desa Siring, Porong. Tak pernah diketahui dengan pasti siapa yang meletakkan mayatnya, siapa yang kebetulan menemukkannya pertama kali, dan kapan? Sabtu 8 Mei 1993 atau keesokan hari Minggunya? Seperti juga tak pernah terungkap melalui cara apapun: liputan pers, pencarian fakta, penyidikan polisi, bahkan para dukun maupun pengadilan, oleh siapa ia dianaya dan di(ter)bunuh? Di mana dan kapan ia meregang nyawa, Rabu malam 5 Mei 1993 atau beberapa hari sesudahnya? Kita cuma bisa berspekulasi dan menduga-duga. Kita memang bisa mereka-reka motif pembunuhan dan menafsirkan kesimpulannya sendiri. Tapi kita tak mampu mengungkap fakta-faktanya. Kunci kematiannya tetap gelap penuh misteri hingga kini, walau tujuh tahun berselang.
Gubuk, ditemukannya jasad Marsinah, dusun Jegong, desa Wilangan, Nganjuk, 100 km lebih dari Sidaorjo | foto diambil dalam waktu yang berbeda November 1993 & Januari 1994
Memang bukan fakta-fakta pembunuhan itu yang penting kemudian, melainkan jalinan citra yang tersusun melalui serangkain pertarungan wacana yang rumit. Para pembunuh mengesankan Marsinah diperkosa. Para aktivis perburuhan menyanjungnya sebagai suri teladan pejuang buruh. Penguasa militer pusat dibantu setempat merekayasa penyelubungan kasusnya sekaligus menyusun skenario peradilan. Kepolisian setempat menyidik tersangka palsu. Para feminis mengagungkannya sebagai korban kekerasan perempuan. Para seniman mendramatisasi nasibnya ke dalam lagu, mengabadikanya dalam monumen, patung, lukisan, panggung teater dan seni rupa instalasi. Para aktivis hak asasi menganugerahi Yap Thiam Hien Award bagi kegigihannya. Khalayak awam prihatin dan bersimpati membuka dompet sumbangan bagi keluarganya. Para birokrat serikat pekerja melambangkanya sebagai korban kesewenangan majikan. Keluarganya sendiri yang sederhana, sebagaimana kebanyakan sikap keluarga pedesaan Jawa, menerimanya dengan pasrah dan tabah. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Marsinah, tipikal buruh perempuan desa yang mengkota tapi terpinggirkan, tiba-tiba muncul sebagai pahlawan di tengah hiruk pikuk industrialisasi manufaktur dan represi penguasa di pertengahan dasawarsa 90-an. Ia bukan hanya mewakili ‘nasib malang’ jutaan buruh perempuan yang menggantungkan masa depannya pada pabrik-pabrik padat karya berupah rendah, berkondisi kerja buruk, dan tak terlindungi hukum, tapi pembunuhannya yang dimediasikan dan diartikulasikan oleh media massa menyediakan arena diskursif bagi pertarungan berbagai kepentingan dan hubungan kuasa: buruh-buruh, pengusaha, serikat buruh, lembaga swadaya masyarakat, birokrasi militer, kepolisian, dan sistem peradilan.
Marsinah anak kedua dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan, Marsini kakaknya dan Wijiati adiknya, lahir dari pasangan Astin dan Sumini di desa Nglundo, kecamatan Sukomoro, kabupaten Nganjuk. Ibunya meninggal saat ia berusia 3 tahun (lahir 1968) dan adiknya Wijiati berumur 40 hari. Ayahnya kemudian menikah lagi dengan dengan Sarini, perempuan dari desa lain. Sejak itulah Marsinah kecil diasuh neneknya, Paerah, yang tinggal bersama paman dan bibinya, pasangan Suraji-Sini.
Tak ada yang istimewa dari masa kecil Marsinah. Ia tipikal anak perempuan kalangan menengah pedesaan yang hidup subsisten, tak terlampau miskin, walaupun tidak kaya. Seperti mayoritas anak-anak pedesaan di Indonesia, juga di negeri-negeri Dunia Ketiga lainnya, ia sudah bekerja pada usia dini dan tampak lebih dewasa dari usianya. Bekerja bagi mereka sangat lazim, termasuk kerja upahan di rumah maupun di pabrik. Sepulang sekolah, ia membantu neneknya menjual beli gabah dan jagung, dan menerima sekadar upah untuk mengangkut gabah dengan bersepeda dari sawah atau rumah orang yang gabahnya sudah dibeli.
Di kalangan teman-teman dan gurunya, di SD Negeri Nglundo, meskipun kepandaiannya dipandang biasa-biasa saja, tapi kerajinan, minat baca, sikap kritis dan tanggungjawabnya menonjol. Setiap tugas sekolah selalu berupaya diselesikannya. Jika ada penuturan gurunya yang kurang jelas, tak segan ia mengacungkan tangan meminta penjelasan. Setelah naik kelas VI, ia pindah ke SDN Karangsemi, dan kemudian melanjutkan ke SMP Negeri V Nganjuk pada tahun ajaran 1981/82. Di sinilah, sebagaimana harapan banyak anak Indonesia seusianya, cita-citanya terbentuk. Mencoba melanjutkan ke SMA Negeri, namun gagal, dan akhirnya ke SMA Muhammadiyah dengan bantuan biaya seorang pamannya yang lain. Di SLTA, minat bacanya semakin meluas. Di waktu senggang ia lebih banyak ke perpustakaan ketimbang bermain. Lagi-lagi seperti banyak gadis desa sebayanya, cita-citanya untuk melanjutkan ke Fakultas Hukum kandas, karena keluarganya tak mampu membiayai kuliah.
Tak ada pilihan lain kecuali mencari lapangan kerja di kota besar. Tahun 1989, ia ke Surabaya, menumpang di rumah kakaknya, Marsini, yang sudah berkeluarga. Setelah berkali-kali melamar kerja ke berbagai perusahaan, akhirnya Marsinah diterima bekerja pertama kali di pabrik plastik SKW kawasan industri Rungkut. Gajinya jauh dari cukup. Untuk memperoleh tambahan penghasilan ia nyambi jualan nasi bungkus di sekitar pabrik seharaga Rp150 / bungkus. Sebelum akhirnya, tahun 1990, bekerja di PT Catur Putra Surya –Rungkut, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan pengemasan barang. Urbanisasi, berdagang untuk penghasilan tambahan, dan berpindah kerja dari satu pabrik ke pabrik lainnya untuk mendapatkan upah yang lebih layak, merupakan kisah klasik buruh perempuan di Jawa sejak awal dasawarsa 80-an.
Di pabrik pembuatan arloji di Rungkut, Surabaya, dengan beberapa kawannya, Marsinah menuntut berdirinya unit serikat pekerja formal (SPSI). Tuntutan inilah mungkin membuatnya dipindah pihak manajemen ke pabrik PT CPS lainnya di Porong, Sidoarjo pada awal tahun 1992. Ia mondok di pemukiman sekitar pabrik, desa Siring, dan bekerja sebagai operator mesin bagian injeksi dengan upah Rp 1.700 dan uang hadir Rp 550 per hari.
Di pabrik itu, seperti kebanyakan buruh lainnya, Marsinah bukanlah termasuk kelompok aktivis. Ia tidak masuk dalam kepengurusan unit kerja SPSI di pabrik ini maupun ikut kelompok informal buruh yang sering berdiskusi membahas kondisi kerja mereka. Waktu luangnya dimanfaatkan secara pribadi untuk mengikuti kursus komputer dan bahasa Inggris. Belajar menambah pengetahuan menjadi hasratnya sejak bersekolah dulu, karena ia percaya melalui pendidikanlah masa depan seseorang menjadi lebih baik. Suatu common sense yang dianut banyak orang.
PT CPS (Catur Putra Surya), Porong, Sidarjo | Agustus 1993. Salah satu dari 14 pabrik yang pertama kali terkubur lumpur Lapindo Brantas (Juni 2006).
Pemogokan buruh untuk meningkatkan posisi berunding mereka merupakan hal umum pada ribuan perusahaan manufaktur di berbagai kawasan industri sejak akhir dasawarsa 80-an. Akibat kebijakan upah buruh murah pemerintah dan industrialisasi berorientasi ekspor, sengketa perburuhan meluas. Intensitas dan skala pemogokan meningkat luar biasa sejak awal 90-an. Tiada hari tanpa pemogokan atau unjuk rasa. Meskipun lebih bersifat spontan atau sporadis, sangat jarang terjadi gelombang pemogokan yang terorganisasikan. Sebabnya sangat jelas, karena lemah atau dilemahkannya serikat buruh serta kendali represif pemerintah yang sangat kokoh melalui birokrasi sipil dan militernya hingga ke kawasan pabrik. Dalam konteks ekonomi-politik inilah tuntutan buruh-buruh PT CPS di akhir April 1993 dan pemogokan mereka, 3-4 Mei 1993, yang berujung pada pembunuhan Marsinah, musti diletakkan.
Tetapi dalam seluruh aktivitas perundingan yang melibatkan 24 orang perwakilan buruh (15 di antaranya wakil buruh yang dipilih spontan, dan sisanya 9 orang pengurus SPSI setempat) maupun aksi mogok di PT CPS, 3-4 Mei tersebut, Marsinah tak pernah ikut serta. Pada pemogokan 4 Mei, saat perundingan berlangsung antara wakil buruh dan para birkorat yang melibatkan pejabat Depnaker, DPC SPSI, Kanwil Sospol Sidorjo dan jajaran Muspika setemapat termasuk wakil Polsek dan Danramil Sidorjo, berlangsung di kantor pabrik, ia malah bekerja seperti biasa. Sementara, pagi hingga menjelang siang itu juga, seorang kawannya yang dituding sebagai pemrakarsa pemogokan tengah memenuhi surat panggilan Kodim dan dinterogasi di Makodim Sidoarjo.
Perundingan yang tidak melibatkan pihak perusahaan itu sendiri berjalan lancar. Meskipun ada beberapa kompromi, hampir semua butir tuntutan buruh terpenuhi. Kecuali tuntutan yang lebih ‘politis’ seperti pembubaran unit kerja SPSI yang dianggap tidak berfungsi mewakili kepentingan mereka. Hal-hal yang dalam wacana pemerintah dipandang sebagai soal-soal normatif seperti kenaikan upah sesuai peraturan UMR, perhitungan upah lembur, cuti haid dan cuti hamil, dijanjikan pihak perusahaan.
Meskipun demikian, dalam kerangka bekerjanya rejim pengandali buruh di Indonesia, seperti di negara-negara miltary-beareucratic-authoritarian lainnya, aparat militer menduduki peran sentral. Mereka bukan hanya centéng yang menjadi penjaga malam kepentingan para pemodal, tapi lebih dari itu adalah patron yang kekuasaannya melampaui imperatif kepentingan modal. Sudah menjadi rahasia umum, jajaran birokrasi komando teritorial Orde Baru memperoleh sumber daya ekonominya dari memeras para pengusaha. Baik buruh maupun majikan disandera untuk menciptakan ancaman satu sama lain. Dari ancaman itulah birokrasi militer memperoleh uang. Pada momen tertentu, meski tak harus melalui upaya provokasi, pemogokan buruh dijadikan senjata untuk menodong para pemilik perusahaan agar mereka rela mengeluarkan biaya-biaya keamanan. Pada momen yang lain, dan ini yang sering terjadi, buruh-buruh diancam, diintimidasi dan dikontrol sepenuhnya dalam kendali mereka, bukan kendali pabrik.
Apa yang terjadi sore hari 4 Mei 1993 adalah awal dari ujung kematian Marsinah. Menyimpang dari ‘logika’ suksesnya sebuah perundingan, 13 buruh PT CPS yang dicap sebagai dalang oleh penguasa militer setempat dipanggil melalui surat yang ditandatangani sekretaris kelurahan Desa Siring agar menghadap Pasi Intel Kodim 0816 Sidoarjo. Malamnya, di pemukiman buruh sekitar pabrik, mengetahui teman-temanya besok akan dipanggil, Marsinah menulis suatu catatan kepada seorang temannnya. Isinya semacam petunjuk jawaban bagi rekan-rekannya bila mereka dinterogasi di Kodim. Ia pun mengatakan pada kepada rekan-rekannya, bila mereka diancam Kodim, ia akan membawa perosalan ini ke seorang pamannya di Kejaksaan Surabaya.
Rabu 5 Mei 1993, 13 buruh PT CPS memenuhi panggilan Kodim. Di markasnya, Sidoarjo, mereka dipaksa menandatangani surat pengunduran diri di atas kertas bermaterai dengan berbagai intimidasi maupun bujukan, termasuk akan diberi uang pesangon dan ‘uang kebijaksanaan’. Tak ada pilihan lain bagi mereka kecuali patuh, menandatangani surat tersebut. Selepas Maghrib, mereka menerima pembagian uang pesangon yang diberikan langsung oleh pihak menejemen di markas itu. Sempat terlontar dari salah seorang menejer PT CPS bahwa pemecatan tersebut bukan kemauan perusahaan, tapi kehendak Kodim. Suatu kaidah normal dalam logika rejim pengendali buruh.
Sementara itu, sepulang kerja giliran pagi, Marsinah bertemu dengan salah satu temannya dan mengingatkan rencana pertemuan para buruh untuk mendengar informasi rekan-rekannnya yang dipanggil. Di rumah pondokannya, ia membuat surat pernyataan kepada perusahaan, yang dituliskan oleh teman satu kosnya yang juga buruh PT CPS. Sorenya, surat itu difotokopi dan berencana dibagikan ke teman-temannya pada pertemuan malam hari. Tadinya surat itu hendak disampaikan ke perusahaan melalui ketua unit kerja SPSI PT CPS, tapi Marsinah dan seorang temannya yang memboncengkannya dengan motor tidak berhasil menemukan rumah si ketua. Akhirnya ia sampaikkan langsung ke pabrik melalui satpam.
Memenuhi rasa ingin tahu perkembangan ke-13 teman-temannya, sepulang mengantar surat, Marsinah kembali ke pondokan seorang temannya. Menjelang Maghrib, bersama empat temannya mereka memutuskan menyusul ke Kodim untuk mencari kabar. Tiga temannya naik kendaraan umum. Ia sendiri membonceng sepeda motor, dan sempat tersesat hingga pusat kota Sidoarjo. Di Makodim Sidoarjo, tiga temannya sudah tiba lebih dulu. Tapi mereka semua terlambat. Ke 13 temannya sudah kembali pulang. Dalam perjalalan pulang besepeda motor, Marsinah sempat mampir ke beberapa teman buruhnya untuk membagi-bagikan foto kopi surat pernyataannya.
Di perempatan desa Siring, Marsinah bertemu dengan empat dari 13 temannya. Karena silang pembicaraan di antara mereka terlalu ramai, Marsinah mengajak dua orang temannya bercakap-cakap di teras rumah pondokannya. Ia menceritakan bahwa telah membuat surat ke perusahaan dan menunjukkannya. Sebaliknya, Marsinah sangat terkejut dan gusar, ketika mengetahui ke-13 buruh yang dianggap biang pemogokan sudah dipecat di Makodim. Ia tidak menerima pemecatan itu, dan menegaskan akan mengadu ke pamanya yang jaksa di Surabaya itu.
Setalah teman-temannya pamit pulang, Marsinah masuk ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian ia pamit kepada ibu pondokannya untuk ke rumah seorang teman perempuannya. Ia mengenakan kaos putih, rok coklat dan bersandal jepit. Tapi ia tidak bertemu temannya itu karena kerja giliran malam.
Dalam perjalanan kembali ke pondokannya, ia berjumpa dengan dua orang kawannya yang lain, lalu mengajak mereka ke rumah pondokan teman lainnya untuk meminta Surat Persetujuan Bersama hasil perundingan 4 Mei 1993. Baginya surat kesapakatan itu penting untuk memastikan janji pihak perusahaan pada butir 10 kesepakatan tersebut, (kutipan aslinya): "Sehubungan dengan unjuk rasa ini (pemogokan kerja), pengusaha dimohon untuk tidak mencari-cari kesalahan karyawan"
Tetapi kesalahan buruh tetap dicari, dengan akibat pemecatan mereka. Janji tidak dipatuhi. Ia merasa diperlakukan sewenang-wenang, tidak adil. Kuasa otoriter tiba-tiba muncul dihadapannya, mengoyak akal sehatnya. Membuatnya geram, merasa dikhianati. Meskipun belum jelas baginya, siapa yang berkhianat? Pihak perusahaan atau Kodim?
Tak seorangpun dapat mengetahui apa yang ada dalam benak Marsinah malam itu: Rabu 5 Mei 1993. Yang diketahui, sepulang dari rumah temannya yang memberi Surat Persetujuan tersebut, ia mengajak dua kawan yang menemaninya untuk membeli makanan. Tapi karena sudah larut malam, menjelang setangah sepuluh, keduanya menolak. Mereka berpisah di bawah pohon mangga dekat Tugu Kuning, desa Siring.
Tugu Kuning gerbang ke pemondokan buruh, desa Siring, Sidoarjo | Agustus 1993.
Sejak saat itulah ia ‘hilang’. Tak ada yang mengetahui kemana Marsinah pergi. Mungkin ia pergi makan, atau bertemu seseorang, yang mungkin ‘menculiknya’. Atau mungkin ia kembali ke Makodim Sidoarjo? Yang bisa dipastikan, ia tidak kembali ke pondokannya malam itu. Ia tidak pergi ke pabrik. Ia juga tidak berkunjung ke rumah pamannya di Surabaya.
Missing link itu tak pernah terungkap di pengadilan sesat yang sarat rekayasa. Majikannya, pemilik PT CPS, para menejer perusahaan, bagian personalia, kepala bagian mesin, dan seorang satpam dan seorang supir perusahaan disekap dan disiksa Bakorstranasda selama 19 hari, di bulan Oktober 1993. Mereka dituduh bersekongkol memperkosa, menganiaya dan kemudian membunuh Marsinah. Bersama Danramil Porong, mereka diadili dan diputus bersalah oleh Pengadilan Militer dan Pengadilan Negeri Sidoarjo, dan diperkuat Pengadilan Tinggir Surabaya setahun kemudian. Meskipun dua tahun kemudian, 3 Mei 1995, mereka divonis bebas Mahkamah Agung, tapi ini hanya menunjukkan betapa sistem peradilan dan hukum kita bukan tempat untuk menegakkan keadilan.
Poster lukisan Semsar Siahaan 
(Medan, 11 Juni 1952 - Tabanan, 23 Februari 2005) | 1994
Maka penyelidikan dan penyidikan ulang dilakukan, pertangahan 1995. Kepolisian RI turun tangan. Tim forensik dari Jakarta membongkar ulang (yang ketiga kalinya!) makam Marsinah. Berbagai komentar dan analisa merebak di surat kabar. Komnas HAM mendukung penyelidikan ulang. Panglima ABRI menginstruksikan pengusutan. Bahkan Menaker Abdul Latief berjanji mengungkapnya hingga tuntas, dan Presiden Suharto kala itu mendukungnya. Namun tak ada ‘hasil’ apapaun yang dicapai dari hiruk-pikuk wacana itu. Isu-isu lain menelan kasus ini kembali ke bawah permukaan, dan orang lupa atau coba melupakannya.
Pun saat rejim berganti. Ingatan banyak orang mencuat kembali. Baik pemerintahan Habibie maupun Gus Dur menunjukkan niatnya untuk mengungkap kegegeran lama itu, apapun penyebabnya: tekanan internasional, tuntutan LSM, legitimasi politik, hak asasi manusia, rasa bersalah ataupun upaya sungguh-sungguh untuk menegakkan keadilan, rule of law. Bahkan, terakhir ini, DPRD Jawa Timur sudah meminta keterangan dan penjelasan beberapa perwira tinggi dan intelejen ABRI yang dianggap mengetahui dan bertanggungjawab atas kebijakan rejim saat itu. Mereka semua mengelak. Tak ada informasi yang signifikan, tak ada argumen yang bermakna, tak ada fakta-fakta dan bukit-bukti ‘baru’, yang dapat dijadikan dasar bagi upaya meraih keadilan. Semua pertanyaan kunci sederhana tak pernah terjawab: kapan Marsinah mati, di mana, oleh siapa, dengan cara bagaimana? Atau mungkin memang tak hendak dijawab, oleh siapapun kita.
Kita merasa cukup puas, bahkan terpuaskan, sekedar menyatakan: “Marsinah, seperti halnya sebagaian besar kita, adalah korban dari suatu mesin kekuasaan dan kekerasan, yang bernama Orde Baru”. Dan kita merasa mampu, dengan rasa bangga, menobatkannya menjadi seorang pahlawan, yang mengasingkan dirinya, juga diri kita, dari kehidupan sehari-hari. Karena kita masih menjadi bagian: Orde Baru.
Harry Wibowo
Koordinator Tim Pencari Fakta “Pembunuhan Marsinah” YLBHI (November 1993-Maret 1994)
Catatan penulis:
1.        Tulisan ini pernah dipublikasi Kompas, edisi khusus ulang tahun, Rabu, 28 Juni 2000.
2.       Foto ditambahkan, salah ketik diperbaiki. Sayangnya saya menemukan file artikel ini belakangan setalah acara "Marsinah Menggugat" yangg diselelnggarakan oleh Aliansi Buruh Menggugat (ABM), malam 8 Mei 2009 di halaman kantor YLBHI, Jakarta.

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Monday, September 05, 2011

Jatuhnya Tripoli dengan cepat

Berita BBC ini menarik http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-14774533 "Libya: Gaddafi regime's US-UK spy links revealed" . Jatuhnya Tripoli dengan cepat membuat dinas intelejen libya dibawah gaddafy tidak sempet memusnahkan semua dokumen. Berita BBC tersebut diperoleh dari dokumen-dokumen yang tidak sempat dimusnakan. Didalam tumpukan dokumen dan arsip tersebut kemungkinan besar ada arsip tentang GAM dan Indonesia. Seperti diketahui Libya melatih militer GAM, pastinya ada catatan-catatan tentang pelatihan tersebut. Sayang media Indonesia tidak tertarik untuk meliput atau mengambil data kesana.
Dulu ketika Jerman Timur jatuh STASI sempat menghancurkan dokumen dan arsip, kemungkinan dinas intelejen gaddafy tidak menyangka akan jatuh secepat itu jadi tidak sempat memusnahkan arsip.

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Monday, February 14, 2011

Menyelesaikan Kasus Cikeusik-Pandeglang

Sangat mudah menyelesaikan kasus cikeusik jika aparat serius mengusutnya.

- Lihat laporan intelejen harian, mingguan, dan bulanan.
- Declassified laporan lokasi setempat, ahmadiyah dan aliran tertentu.
- Lihat semua rekaman video di TKP termasuk rekaman milik polisi yang lebih lengkap
- Telusuri uang mengalir darimana kemana.

Nah masalahnya mau mengusut atau tidak. TAkut juga yang mengusutnya nanti jeruk makan jeruk.


di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Monday, January 10, 2011

Cita-cita Siswa Akademi Tentara di Era Orde Baru

Di era orde baru sudah umum cita-cita mereka yang masuk akademi tentara bukan untuk menjadi prajurit profesional tapi menjadi bupati,walikota, gubernur, mentri atau pejabat BUMN. Saya dengar dari kawan disana saat ini sudah sedikit yang bercita-cita seperti itu lagi.
Komentar seorang kawan atas berita dibawa adalah "orba bangets masuk perwira tujuannya jadi pimpinan sipil :)) (pimpinan yang "dijatahkan")"

http://cetak.kompas.com/read/2011/01/10/0240582/dirut.pertamina.yang.pernah.dicita-citakan

KENANGAN PRESIDEN
Dirut Pertamina yang Pernah Dicita-citakan
Senin, 10 Januari 2011 | 02:40 WIB

Siapa yang menduga jika Mayor Susilo Bambang Yudhoyono saat masih menjadi Komandan Batalyon Infanteri 744/Satria Yudha Bakti di Timor Timur (sekarang Timor Leste), tahun 1984, hanya bercita-cita menjadi bintang dua atau setingkat mayor jenderal. Ia lalu pensiun dan menjadi Direktur Utama PT (Persero) Pertamina.

Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain. Yudhoyono justru menjadi Presiden Indonesia dan berpangkat Letnan Jenderal tahun 1998. Ia pun memiliki pangkat tertinggi yang menjadi impian prajurit TNI, yaitu sebagai jenderal, beberapa tahun kemudian.

Bahkan, kini, sebagai presiden, Yudhoyono tengah menjalankan periode kedua kepemimpinannya bersama Wakil Presiden Boediono. Ia kemudian juga menjadi ”atasan” dirut BUMN, termasuk Pertamina, seperti yang pernah dicita-citakan itu. Yudhoyono pernah menjadi Menteri Pertambangan dan Energi dalam pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid tahun 2000.

Itulah sepenggal cita-cita yang pernah dilontarkan Yudhoyono, yang diceritakan kembali oleh Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) Mayjen TNI Waris saat memberikan laporan pada Syukuran Penempatan Flat Paspampres dan Penggunaan Rumah Pintar Setia Waspada di Desa Bojongnangka, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, Jumat (7/1).

Kenangan yang disampaikan Waris itu terjadi saat ia sering melakukan operasi militer bersama Yudhoyono di daerah pegunungan di sebelah barat Timor Timur (Timtim) di kawasan Ainaro dan sekitarnya. Waktu itu Waris di Batalyon 745 berkedudukan di Los Palos, Baucau, Timtim.

Menurut Waris, selama empat hari, dukungan logistik bagi operasi militer yang dipimpin Yudhoyono terputus sehingga mereka harus berbagi dua dengan roti yang diperolehnya di perjalanan. ”Goreng kering tempe yang biasa Ibu Ani bawakan waktu itu juga sudah habis,” kata Waris lagi.

Tak pelak, dengan gaya yang ceplas-ceplos, laporan Waris mengundang banyak tawa dan senyuman sejumlah tamu sampai prajurit Paspampres yang berjaga di sekitar tenda besar acara Hari Bhakti Ke-65 Paspampres. Peringatan ulang tahun Paspampres diperingati pada 3 Januari lalu di Markas Paspampres di Tanah Abang II, Jakarta.

”Waris, saya tak mempunyai cita-cita yang tinggi. Cukup bintang dua dan terus menjadi Dirut Pertamina,” papar Waris saat mengisahkan cita-cita Yudhoyono waktu itu, tanpa tidak lupa meminta izin sebelumnya pada Presiden yang duduk di sebelah Wapres Boediono. Hadir pula Ny Ani Yudhoyono, Ny Herawati Boediono, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Sekretaris Negara

Sudi Silalahi, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, dan Gubernur Jawa Barat Achmad Heryawan.

Waris melanjutkan ceritanya. ”Saat Bapak menjadi Mentamben, saya menghadap. Saat itu listrik di rumah byarpet. Saya bilang, dulu mau menjadi Dirut Pertamina, sekarang menjadi Mentemben, kok listriknya masih byarpet, Pak,” ujar Waris.

Yudhoyono menanggapi paparan Waris. ”Apa yang Pak Waris sampaikan adalah benar adanya,” katanya. Ia menyebutkan pula, Waris adalah salah satu ”macan” di tengah operasi militer Timtim. (Suhartono)




di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Friday, April 30, 2010

Leak to The Search Engine



Secara tidak sengaja saya menemukan kebocoran suatu database ke sistem pencarian. Data tersebut mestinya hanya bisa diakses oleh user yg memiliki otoritas tapi ternyata tanpa memerlukan user id dan pass data bisa diakses jika kita mengetahui kata kunci yg tepat di mesin pencari.




ps: saya sudah berusaha mengirim email ke admin situs tersebut tapi tampaknya admin tidak memperhatikan mailbox yg tercantum dalam situs tersebut sehingga email yang saya kirim mental terus.

Hi. This is the qmail-send program at mail.dephan.go.id.
I'm afraid I wasn't able to deliver your message to the following addresses.
This is a permanent error; I've given up. Sorry it didn't work out.

<postmaster@dephan.go.id>:
user is over quota

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Wednesday, February 03, 2010

KRI 593 Banda Aceh





Diperoleh dari belantara internet.

dimuntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Thursday, December 24, 2009

50 Tahun Pengabdian Hiu Kencana 1959-2009



Buku ini berisi tulisan10 mantan komandan Hiu Kencana(satuan kapal selam RI) dan satu orang mantan komandan kamar mesin Hiu Kencana. Indonesia dulu pernah punya 12 kapal selam. Dengan 12 kapal selam tersebut seluruh wilayah Republik Indonesia terpantau. Sekarang hanya punya dua, itu pun kondisinya memprihatinkan. Katanya Indonesia negara maritim tapi angkatan lautannya dianaktirikan. Indonesia saat ini dikawasan masih ditakuti kemampuan kapal selamnya tapi entah 5 tahun kedepan karena negara dikawasan yang baru memiliki kapal selam dalam waktu 5 tahun mungkin akan mengejar kemampuan tempur yang dimiliki oleh Indonesia.

Foto-foto dibuku tersebut kualitasnya buruk. Editornya juga tidak teliti, banyak kesalahan penulisan. Beberapa istilah semestinya ditambahkan artinya dibelakang jika buku ini diniatkan untuk terbit untuk umum.

Penerbit Panitia Penerbitan Buku 50 Tahun Pengabdian HIU KENCANA
Cetakan: Agustus 2009
ISBN 978-979-96729-33



dimuntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Monday, July 20, 2009

Soyuz @ French Guiana






Menyambung dengan postingan http://sawung.blogspot.com/2008/01/peluncuran-satelit-via-biak.html. Dua launcher akan dikirim ke CSG sesudah musim panas 2009. Peluncuran perdana soyuz dari CSG diperkirakan akhir tahun 2009.

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Sunday, May 24, 2009

Berkelitnya para panglima



Hari kebangkitan tahun ini diperingati dengan jatuhnya Harcules A1325 di Magetan. Pristiwa tragis ini menimbulkan korban baik penumpang pesawat dan penduduk. Pesawat tersebut buatan tahun 82. Herky ini merupakan herki versi sipil pertama yang dibuat khusus untuk indonesia. A1325 banyak berjasa mengangkut transmigran dari pulau jawa. A1325 kemudian dihibahkan kepada TNI AU tahun pertengahan 90an.
Pristiwa jatuhnya herky membaut beberapa pihak kebakaran jenggot (walaupun mereka gak punya jenggot). Kenapa kebakaran jenggot? Ini karena dalam 2 bulan sudah 3 pesawat mengalami kecelakaan fatal, 2 total lost satu rusak berat (ini belu termasuk kecelakaan yg tidak diketahui publik). Kecelakaan ini ditenggarai disebabkan oleh minimnya dana perawatan yang dimiliki oleh TNI AU. Awal tahun lalu memang ramai sekali keluhan mengenai pemotongan anggaran militer. Pemotongan ini memberatkan TNI AU dan AL, dari awal tahun soal ini sudah diingatkan. Bohong besar jika dibilang pemotongan tidak berpengaruh kepada operasional pesawat. Di media disebutkan bahwa yang dipotong pembelian alutsista baru. Lho kapan AU beli alutsista baru dari anggaran militer? Pembelian baru berasal dari KE. Perbaikan pesawat herky di Singapura pun mekanismenya ternyata melalui KE bukan melalui anggaran militer. (KE tidak dimasukkan dalam anggaran militer).

Ketika ditanya soal kondisi alutsista beberapa pihak tidak mau menjawab dengan jujur. Hari kemarin panglima berbicara mengenai kerahasian negara. Pak, kita bisa dengan mudah mengetahui kondisi alutsista Indonesia dari website luar negeri, jadi apanya yang dirahasiakan? Dirahasiakan dari penduduk indonesia maksudnya? Kritik sukribo melaui komik diatas mestinya bisa menyindir orang-orang yang bertanggung jawab.


*kartun berasal dari kompas minggu 24 mei 2009
*pak jusuf kalla juga menulis tentang kecelakaan hercules tersebut di http://jusufkalla.kompasiana.com/2009/05/21/salah-satu-korban-tragedi-hercules-adalah-tetangga-saya/
di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Friday, April 17, 2009

Next Generation Launcher






"Blue print" dari next generation launcher ESA. Peluncur tersebut bisa dimanfaatkan untuk rudal balistik juga.

sumber: esa


di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Saturday, March 21, 2009

Daftar nama, nrp dan nomer hp komandan kodim se-indonesia

Secara tidak sengaja saya menemukan data nama, nrp dan nomer telpon selular semua komandan kodim se-indonesia. Data tersebut ada disebuah situs publik. Mantap juga data sedetail itu ditaruh disitus publik. Apakah tidak ada aturan mengenai apa yang boleh diterbitkan ke muka umum atau tidak dalam institusi TNI? Apakah ini masuk rahasia atau engga? Saya belum menambang data lain dari situs tersebut. Atau ada pihak TNI yang mau berbagi tentang aturan-aturan penerbitan sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan TNI? Saya menunggu neh. :D

ps: dulu bahakan menemukan beberapa operasi dibeberkan disitus jejaring sosial.


di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org