Saturday, December 17, 2005

iman

Dunia ini abu-abu jack
(clear and persent danger)

Ternyata saya lebih mempercayai teman saya yang jarang/tidak beribadah, tidak percaya organisasi agama dan tidak percaya tuhan. Saya lebih percaya mereka karena mereka menjadi orang-orang yang baik dan setia tanpa tanpa pretensi apa-apa dan belakangan terbukti mereka memang yang paling setia. Saya punya banyak penglaman buruk dengan orang yang mengaku shaleh. Merka sering kali mengkhanati dan diam-diam berbohong kepada saya. Ada seseorang yang sering bilang "wung, solat dulu ya" tetepi ternyata dia sangat menguciwakan saya. Memang keimanan tidak bisa diukur dari ibadah seseorang. Iman itu ada dihati. Seseorang yang saya kenal, secara fisik rajin sekali beribadah dan selalu tepat waktu. Banyak orang lain yang beranggapan dia lebih beriman dibanding saya. Padahal kalo orang tahu kelakuannya bakal tercengang. Banyak orang yang sepertinya tertipu karena sebenarnya dia telah melakukan perbuatan yang dilarang berat oleh Allah dan dia melakukannya berulang-ulang. Mata manusia mudah ditipu tapi mata tuhan tidak bisa ditipu.
Teman saya yang atheis, agnostik dan tidak percaya organisasi agama kalo berbuat baik tulus banget. Mereka tidak berharap surga atau imbalan apa-apa. Ingin berbuat baik aja tidak ada maksud lain. Tulus, lus lus.

nb: ditulis karena kekecewaan kepada orang yang ibadah dan perbuatan sehari-harinya bertentangan.
di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

4 comments:

ica (annisa_gultom@yahoo.com) said...

never never ever nilai orang dari rajin nggaknya dia ibadah, gw juga pernah kuciwa bais! my best friend sekarang protestan, tapi itu nggak penting karena hal yang lebih penting dia bisa dipercaya, jujur, kata-katanya bisa dipegang, dan dia orang yang paling transparan yang pernah gw kenal...
agama and ibadah emang nggak selalu bisa menentukan sifat orang, semuanye balik lagi sama individu masing-masing..
Sawung Kampret aja rukun ama Mbah Komplen, Maritje, koh Tan ping san
Martukoplo yang notabene pribumi malah ikrib ma JP COen....

Anonymous said...

hehehe, katanya teman itu adalah refleksi diri kita.jadi kesimpulannya?????hehehe ga tau ya :)

sawung said...

ica: benul eh salah betul dan benar.

anynomus: ga juga kali. Temen gue kalo disensus kebanyakan manusia yang apatis. Kalo lo baca cerita temen-teman gw yang penjahat (pembunuh, penipu dan perampok) berarti gue juga perampok? Klo temen gue niken berteman sama anak jalanan berarti dia sama dengan mereka? analogi yang salah.

M said...

Sungguh disayangkan jika ibadah seseorang tidak dibarengi dengan kelakuannya. Seharusnya ibadah itu sendiri membawa orang tersebut kepada perbuatan yang baik. Jika sebaliknya maka saya rasa ada yang salah dengan ibadahnya. Saya rasa itu berarti orang tersebut tidak meresapi arti ibadah itu sendiri.
Mengomentari kata-kata "Iman ada di Hati" : Jika seseorang itu benar2 beriman maka tentu saja ia akan beribadah dan bertingkah laku sesuai dengan yang diperintahkan :)
Jangan karena seseorang yang seperti kamu sebutkan tadi kamu mengambil kesimpulan bahwa semua orang sama seperti itu. OK? :-)