Monday, November 10, 2014

d'avare karya Moliere dimainkan oleh STB

 Ulang tahun ke 56 STB(studiklub teater bandung) teater modern tertua di Indonesia memainkan karya klasik Moleire dramawan prancis. Karya ini diadaptasi ke dalam konteks lokal indonesia tahun 30-an. Judul dramanya jadi berubah menjadi d'koret atau bakhil.
 Ceritanya tentang tuan Bakir yang sangat kikir sekali.


di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Monday, November 03, 2014

Jalanan the movie

Jalanan sebuah film dokumenter tentang 3 orang pengamen jalanan yang beraksi didalam bus di jakarta 

Monday, September 29, 2014

kartu pos musim gugur





salam dari daun-daun yang gugur *apaseh


di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Sunday, April 20, 2014

Monday, December 30, 2013

sokola rimba (film)

Akhirnya buku sokola rimba yang bercerita tentang pengalaman saur m "butet" manurung dibuat filmnya oleh miles. Sayang filmnya memaksa menyampaikan pesan yang banyak. Padahal bisa mengambil satu atau dua pesan saja dari bukunya tidak perlu semua pesan diambil. Bisa saja sebenarnya pengalamanan mengajar butet atau tertekannya ruang hidup suku anak dalam saja yang diambil, pesan-pesan lain tidak perlu diambil. Tampaknya film ini tidak banyak menarik penonton waktu nonton bareng cima cuma beberapa gelintir penonton saja yang hadir.
Beberapa pekan sesudah film ini diputar suku anak dalam mengalami tekanan oleh aparat dan perusahaan.

http://www.mongabay.co.id/2013/12/13/puluhan-tahun-berlanjut-asiatic-persada-terus-memakan-korban-suku-anak-dalam/

Sampai hari ini masih ada warga suku anak dalam yang meningap di komnas ham Jakarta


di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Friday, November 29, 2013

SIGINT atau HUMINT

lebih penting mana sigint atau humint? dua-duanya saling melengkapo
able archer membuktikan bahwa sigint saja tidak cukup perlu humint. kalau soviet tidak punya humint yang cukup sudah terjadi perang nuklir antar dua blok.
ops warden(dan faber) menunjukan melalui sigint yang intesif negara tetangga melakukan persiapan operasi yang cukup baik hingga tidak ada elemen kejutan.


di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Thursday, November 14, 2013

Limapuluhlima Tahun STB: Kereta Kencana karya WS Rendra

 Kereta Kencana bercerita tentang sepasang suami istri yang menunggu kematian(keretakencana) datang menjemput. Mereka sudah hidup selama 200 tahun. Selama menunggu mereka banyak bercerita tentang macam-macam, bahkan bermain badut segala :D Aktor yang main kali ini Indrasitas dan Sugiyati Suyatna Anirun





di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Monday, September 16, 2013

Jalan Kekerasan

Ketika jalan damai dan dialog selalu menemui jalan buntu dan tidak memenuhi keinginan masyarakat banyak maka akhirnya masyarakat memilih jalan kekerasan. Jikalau jalan kekerasan tersebut selalu menyelesaikan masalah maka pada akhirnya masyarakat menganggap jalan kekerasan sebagai satu-satunya jalan untuk menyelesaikan persoalan. Oleh sebab itu pemerintah janganlah menutup jalan damai dan dialog untuk menyelesaikan persoalan.


di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Monday, August 26, 2013

Kepentingan Nasional dan Pejabat

Pejabat yang mestinya mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kepentingan nasional malah melakukan tindakan yang meninggalkan kepentingan nasional :(
Kepentingan kelompok dan golongan jadi lebih utama bukan kepentingan nasional, bungkusnya saja yang seolah-olah kepentingan nasional padahal secara kasat mata bukan demi kepentingan nasional


di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Wednesday, May 08, 2013

Dua Puluh Tahun Marsinah

DONGENG MARSINAH oleh Sapardi Djoko Damono


/1/
Marsinah buruh pabrik arloji,
mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi,
ia sangat cermat dan pasti.

Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
“kami ini tak banyak kehendak,
sekedar hidup layak,
sebutir nasi.”

/2/
Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”

Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”

/3/
Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
ia disekap di ruang pengap,
ia diikat ke kursi;
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lenkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.

Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi;
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.

Dalam perhelatan itu,
kepalanya ditetak,
selangkangnya diacak-acak,
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.

Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.

/4/
Di hari baik bulan baik,
tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli,
meregang waktu bersaksi:

Marsinah diseret
dan dicampakkan —
sempurna, sendiri.

Pangeran, apakah sebenarnya
inti kekejaman? Apakah sebenarnya
sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
azas kekuasaan? Dan apakah ebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?

Apakah ini? Apakah itu?
Duh Gusti, apakah pula
makna pertanyaan?

/5/
“Saya ini Marsinah,
buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
ke dunia lagi; jangan saya dikirim
ke neraka itu lagi.”

(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)



apa sebaiknya menggelinding saja
bagai bola sodok,
bagai roda pedati?”


(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia biarkan gerbang terbuka.)

“Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang
di poster-poster itu;
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu
harga sebuah lencana.”

(Malaikat tak suka banyak berkata,
tapi lihat, ia seperti terluka.)

/6/
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.

Kita tatap wajahnya
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.

Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.

(1993-1996)


*tahun ini kasusnya kadaluarsa

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org