Monday, November 23, 2009

kaos pesenan orang


Sistem Kepemilikan -Koil

makan tidak makan bersama
asal kita berdua punya uang berjutajuta
bisalah kita belanja bersukaria
bahkan bisa membeli cinta”

peribahasa bodoh yang harus aku dengar
bagaikan suara halilintar
berkumandang memekakkan telinga
dari mulut pemimpin negara sampai para
pelawak pemberontak yang tidak merubah apa apa
dan para pelajar yang
merasa dirinya benar benar pintar

kau kira siapa dirimu
bisa membeli hidupku yang rapuh
mengisi hari bekerja dan patuh
bukan menjadi manusia yang tangguh
aku kira siapa diriku mencoba setia dan tunduk padamu
dan kutanya sanggupkah diriku
membawa mimpiku ke dunia yang baru
mengubur mimpiku agar semua bisa makan

ini negara bodoh yang sangat aku bela
layaknya kekasih yang tercinta
tiap jengkal aku mendaki terasa hampa
sebetulnya apa yang kita miliki? tak ada
kebanggaan terhadap diri sendiri? tidak juga
kepemilikan negara ini?
siapa yang kucacimaki?

kamu dididik untuk bermimpi
kamu terbiasa dibohongi
kamu dihibur ikut bernyanyi
hey kamu miskin bodoh dan sombong


mp3nya disini
di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Anak Muda Bicara Korupsi "Martabat Seharga Rp 5.000"


Buku lomba menulis dalam rangkaian pementasan teater Ladang Perminus selesai juga dicetak. Pemenang lomba penulisannya anak SMA 5 Bandung bernama Hana Hanifah dengan judul Martabat Seharga Rp 5.000. Tulisan lengkapnya bisa dibaca di http://www.vhrmedia.com/Martabat-Seharga-Rp-5.00000-korupsi2502.html . Karya-karaya pemenang lainnya juga dapat diunduh disana.

Kutipan karya pemenang pertama:
Akan ada hukuman dan tindak lanjut untuk setiap pelanggaran. Tak terkecuali bagi Indonesia yang merupakan negara hukum. Setiap pelanggaran yang dilakukan seharusnya mendapat hukuman sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku. Jika memang begitu, seharusnya perusahaan-perusahaan besar itu sudah diberi sanksi berat dan diusir mentah-mentah dari tanah Indonesia. Namun sebaliknya, perusahaan ini semakin betah di Indonesia. Pemerintah tak pernah benar-benar memberikan sanksi tegas untuk perusahaan-perusahaan besar ini, agar mengubah perlakuannya terhadap para buruh. Selalu saja ada alasan lebih penting untuk tidak menghukum perusahaan asing ini. Padahal secara legitimasi hukum, perusahaan-perusahaan asing tersebut harus mengikuti peraturan Indonesia, dan Indonesia berhak memberi mereka sanksi atau hukuman karena melanggar peraturan yang sudah disepakati.
Dalam permasalahan ini, peran pejabat negara terkait mesti dipertanyakan. Para menteri dan pemerintah daerah terkait seharusnya sudah mengambil tindakan tegas atas hal ini. Ke mana pemerintah yang seharusnya melindungi para pekerja Indonesia? Tak heran jika pemerintah tak pernah benar-benar mengusir atau menghukum perusahaan-perusahaan asing tersebut. Alasannya, tentu saja, keuntungan bagi rakyat sangat besar. Pertanyaannya, rakyat yang mana? Karena sementara segelintir orang menikmati harta berlimpah ruah, ratusan ribu buruh menderita hanya untuk mendapat Rp 5.000,- satu hari dengan membuat 100 pasang sepatu. Padahal, perusahaan itu mendapat keuntungan berjuta-juta dollar setiap bulan. Uang sebanyak itu hanya dipakai untuk menggaji petinggi perusahaan yang kerjanya hanya duduk nyaman di ruangannya dan menandatangani beberapa berkas yang bahkan tak dibacanya. Sebagian uang lagi mungkin dipakai untuk membayar pejabat-pejabat negara bersangkutan untuk menutupi keburukan perusahaan mereka, sehingga mereka dapat lolos dari jeratan hukum. Hasilnya, hak asasi manusia para buruh diinjak-injak di negara sendiri.

Foto para pemenang :


Cover belakang bukunya:


Buku bisa diperoleh ke spasi@gmail.com
di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Saturday, November 21, 2009

kaos yang baru dibeli


Setelah sekian lama akhirnya beli kaos seringai.



Beli kaos ERK juge



Tulisan dibelakang kaos ERK:
ini Masalah Kuasa
Alibimu Berharga
Kalau Kami Tak Percaya
Lantas Kau Mau Apa?

Kamu Tak Berubah
Selalu Mencari Celah
Lalu Smakin Parah
Tak Ada Jalan Tengah

Pantas Kalau Kami Marah
Sebab Dipercaya Susah
Jelas Kalau Kami Resah
Sebab Argumenmu Payah

Kamu Ciderai Janji
Luka Belum Terobati
Kami Tak Mau Dibeli
Kami Tak Bisa Dibeli

Janjimu Pelan Pelan Akan Menelanmu

ini Mosi Tidak Percaya
Jangan Anggap Kami Tak Berdaya
ini Mosi Tidak Percaya
Kami Tak Mau Lagi Diperdaya


di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Saturday, November 14, 2009

Memalukan sesepuh mobrig



Entah apa yang ada dipikiran komandan yang memerintahkan spanduk tersebut dibuat. Apakah mereka tidak memikirkan para sesepuh yang membangun mobrig. Yang turut berjuang mempertahankan Republik. Mobrig yang pada masa agresi belanda bergerak di Jatim.

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Tuesday, November 10, 2009

Misunderstanding - Albert Camus




Misunderstanding bercerita tentang seorang lelaki yang bertamu ke hotel milik keluarganya yang dikelola oleh ibu dan saudara perempuannya. Lelaki itu sudah lama sekali tidak pulang. Dia menginap tanpa memperkenalkan diri. Terjadilah salah paham dimana ibu dan saudara perempuannya membunuhnya untuk memperoleh harta ketika dia sedang tidur.




ps: seperti biasa pertunjukan teater dilarang menyalakan lampu kilat ketika memotret dan membunyikan suara dering telepon seluler.
di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Thursday, November 05, 2009

Seruan!






Hallo Para Polisi Lapangan..

Pernahkah kalian bertanya2, mengapa Abdi Negara seperti kalian bergaji rendah?

Jawabannya : Karena Koruptor..

Pernahkah kalian bertanya2, mengapa Abdi Negara seperti kalian terkadang harus memberikan nafkah haram / makan bangkai.. bagi keluarga kalian?

Jawabannya : Karena Koruptor..

Kalian bukan alat! Kalian adalah manusia! Jangan segan untuk bergabung bersama kami demi membasmi para koruptor walaupun kemungkinan mereka adalah atasan kalian..

Kalian bukan alat! Kalian adalah manusia! Kalian punya hak untuk memutuskan kebenaran dalam hidup kalian. Jangan biarkan para atasan yang (mungkin) korup itu memanfaatkan Sumpah Setia kalian demi kepentingan mereka..

Tanpa kalian para pemimpin2 (korup) itu bukanlah siapa2! Semoga nurani mengetuk dan menyatukan kita dalam penegakan Kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan bersama Dunia-Akhirat..

Salam untuk bapak-bapak Polisi yg masih Bersih & masih punya HATI NURANI...
Tuhan memberkati kita semua.. Amiiinn...

(dikutip entah dari mana dan oleh siapa)
di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org