Sunday, November 18, 2007

Kejar Paket B

Kelanjutan dari cerita Kejar paket B.

13 November 2007

Hari ini, untuk kedua kalinya saya mengantarkan murid-murid saya untuk
mengikuti Ujian Paket B. dari 8 orang murid saya yang harusnya
mengikuti ujian, hanya ada 7 orang murid yang bisa ikut. Satu orang
murid saya yang tidak ikut ujian dikirim orang tuanya unruk menjadi
tukang bangunan di Jawa.

Dari 7 orang muridku yang mengikuti ujian, ada 6 orang yang ujian
PAket B di PKBM Amanah dan 1 orang ujian di Patra Komala.

Kami semua tiba di PKBM Amanah pukul 12.oo. Hingga sekitar pukul
12.30, PKBM Amanah masih sepi. PKBM Amanah memiliki 2 ruang kelas yang
kecil. Suasananya mengingatkan saya akan sekolah murid-murid saya yang
telah bubar.

Ujian mulai pukul 13.oo. Mendekati waktu ini, pengawas pun telah tiba.
Ibu Euis, pemilik PKBM Amanah, dan seorang guru dari SMP Bina Bangsa
merupakan pengawasnya. Selain ke 6 muridku, ada juga 5 orang
bapak-bapak yang juga mengikuti ujian.

Ujian pertama adalah PPKN. Perlu diketahui bahwa kami semua belum
mengetahui jadwal ujian untuk 3 hari ini dan waktunya sebelum kemarin
pk 13.oo. Gila bukan!! Kami baru diberitahu jadwal ujian sehari
sebelumnya!!
Bahkan, kemarin pagi, kami belum mengetahui apakah ujiannya pagi atau
siang.

Setiap muridku diminta oleh oihak PKBM untuk membayar p 250.000,- per
anak. Hal itu cukup berat untuk keluarga murid-muridku, dan sampai
seminggu sebelum ujian, kami masih bingung darimana harus mendapatkan
uangnya.

Beruntungglah kami, seorang kenalan dari internet membantu membiayai
uang ujian ketujuh muridku. Kami sangat bersyukur akan hal ini.

Walaupun uang sumbangan tersebut telah saya pegang, sampai ujian tadi
saya belum membayarkannya ke PKBM. Saya ingin tahu apakah saya akan
ditagih atau tidak.

Waktu saya sedang menungu murid-muridku yang ujian PPKN, saya
dipanggil untuk masuk ke ruang kelas yang tidak digunakan untuk ujian.

"Ibu ada yang manggil," kata Bu Euis.
Ternyata seorang ibu yang berseragam dinas pendidikan, Bu Dewi
namanya. Dia ternyata memanggilku untuk mengingatkanku bahwa anak-anak
belum membayar uang ujian.

Saya iseng bertanya," Bukannya pemerintah yang membiayai?"
Ibu itu pun menjawab,"Ibu jangan salah, ujian ini tidak disubdsidi
pemerintah. Tolong dibedakan yah. Ada ujian yang disubsidi pemerintah.
Kalau ini tidak."
Dan secara manis, ibu tersebut mencoba merayuku,"Ini uangnya kan
dipakai buat uang transport. Pengawasnya kan tiap hari ada 2, jadi
untuk 3 hari pengawasnya ada 6. Kalau disubsidi pemerintah mah kita
juga gak bakal minta. Selain itu kan buat transport pengawas."

Dalam hati saya percaya bahwa sebenarnya pihak PKBM Amanah memungut
bayaran dalam keadaan 'terpaksa'.Pasti ada pihak tertentu yang
memberikan tekanan pada PKBM untu menarik bayaran1. Saya telah
menanyakan penduduk sekitar tentang PKBM Amanah. Bu Euis, pemilik PKBM
Amanah terkenal karena sering memberikan bantuan pendidikan ke
anak-anak usia SD – SMU di sekitar sana. Selain itu ia sibuk mengajar
di sana-sini.

Teman saya telah memperingatkan saya bahwa bisa saja pihak PKBM Amanah
menggratiskan anak-anak untuk ikut ujian, tetapi pihak PKBM Amanah
mungkin akan ditekan oleh pihak tertentu. Salah satu bentuk tekanan
yang mungkin terjadi adalah pihak PKBM dimintai menggantikan uang
anak-anak yang tidak membayar. Walaupun ini belum tentu benar, saya
tidak berharap hal ini terjadi.

Akhirnya saya pun membayar uang ujian murid-murid dengan hasil
sumbangan seorang kenalan di Internet. Untuk 6 orang anak, saya harus
membayar 6 x Rp 250.000,- = 1,5 juta rupiah.

Setelah saya membayar, saya mendapatkan perlakuan yang sangat manis
dari Ibu dari dinas pendidikan Kota Bandung, yang katanya merupakan
penilik ujian yang tugasnya adalah untuk mengawasi ujian tersebut. Aku
benci sekali sikap 'sok manis ini' ini dan sebenarnya saya marah
sekali. Akan tetapi kemarahan tersebut saya simpan dalam hati dan saya
paling memberikan semyuman sinis pada ibu tersebut.

Ibu tersebut meminta Bu Euis untuk meberikan saya soal matematika yang
akan diujiankan untuk pelajaran kedua(saat itu masih waktu untuk ujian
I). Katanya saya boleh membuatkan solusinya dan memberikannya ke
anak-anak saat ujian. "Biar anak-anak lulus, kasian kan udah 2 kali
gak lulus."

Saya menolak sambil tersenyum sinis.

Saya bahkan ditawarkan untuk mengisi lembar jawabannya Heri, muridku
yang tidak mengikuti ujian karena telah menjadi tukang bangunan. Agar
Heri nanti bisa mendapatkan ijazah.

Saya pun menolak.

Saat anak-anak akan memasuki ujian ke dua, saya diperbolehkan masuk ke
dalam kelas. Saya duduk di bangku kosong panjang yang ada di belakang
kelas. Saat soal dibagikan, saya pun diberi soal matematika yang
diujiankan.

Karena iseng, dan suka menghitung, saya pun membuat solusi jawaban.
Rencananya akan saya simpan sendiri, sebagai 'bahan tambahan belajar'
untuk murid-muridku yang sekarang. Tapi ternyata ibu-ibu dari dinas
pendidikan mengira saya membuatkan kunci jawaban untuk murid-murid
saya yang akan ikut ujian,"Nah gitu dong!" Padahal, solusi tersebut
sama sekali baut muridku yang saat itu sedang mengikuti ujian. Dan
saya sama sekali tidak suka dengan kata-kata si ibu tersebut. Saya pun
sibuk sendiri menghitung dan membiarkan si ibu pergi.

Ujian selesai sekitar pukul 17.00 kami pun pulang. Saya ingin segera
pulang untuk menuliskan apa yang telah saya alami hari ini.



di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

5 comments:

Sigit said...

Halo mas Sawung, alumni Boul ya? Duh saya tak pernah kenal. Salam kenal mas :)

Yessi Pratiwi Surya Budhi said...

Hah, siapa pula yang alumni boulevard :) Wakakak

Sigit said...

saya? saya bukan alumni. saya di-DO dari boulevard :(

Sigit said...

Baca postingan ini, kok jadi inget Novel Laskar Pelangi. Jangan2 emang ada niat untuk dinovelkan ya?

Floresiana Yasmin Indriasti said...

hmmm... gue ngerti sekarang kenapa banyaaak orang suka mencontek. ternyata dari dinas pendidikan juga dihalalkan toh?